CEO Words
Rabu, 17 Februari 2016

Melanjutkan tulisan Saya yang kemarin. Kali ini kita akan membahas bait kedua dari doa bebas hutang.

Pada bait pertama, doa ini berbunyi :

Allahumma inni a'udzubika minal hammi wal hazani

Ya Allah, aku berlindung dari kegundahan dan kesedihan.

Di bait kedua, dilanjutkan dengan :

Wa a'udzubika minal 'ajzi wal kasali

Dan aku berlindung dari rasa lemah dan rasa malas.

Maka, pada pembahasan kali ini, kita akan berfokus pada dua hal ini : kelemahan dan kemalasan.

*****

Menyimak doa ini, kita akan memahami bagaimana sebenarnya seseorang bisa terbebas dari hutang atau mencapai apa yang Ia targetkan. Pada tulisan kemarin, Saya sudah membahas bahwa proses berjuang melunasi hutang sangatlah mirip dengan proses bisnis, dimana seseorang dituntut untuk menghasilkan pemasukan yang besar.

Pertama-tama, seseorang harus mengatasi rasa gundah dan sedihnya terlebih dahulu. Maka doanya berbunyi hammi wal hazani.

Kemudian, setelah selesai pada level ketenangan jiwa, seseorang harus mampu bergerak. Maka ia harus mengatasi perasaan lemah dan malasnya. Secara sederhana, dia sudah tenang, tapi jika tenang saja tanpa bergerak, masalah tidak akan selesai.

Lalu pada bait ketiga, "aku berlindung dari kepengecutan dan kebakhilan" - jubni wal bukhli. Dahsyatnya Doa ini, doa ini menuntun seseorang agar tidak hanya bergerak menyelesaikan permasalahan dirinya, namun juga bergerak membantu orang lain. Bait ketiga ini akan kita bahas esok hari.

Kali ini kita akan berfokus membahas langkah kedua.

*****

Saya mengasumsikan, sahabat Ziders telah membaca tulisan Saya di hari kemarin. Anggaplah sekarang kita telah tenang, kita telah mampu melewati kegundahan dan kesedihan kita. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?

BERGERAK!

Permasalah hutang yang begitu menekan atau target bisnis yang begitu dahsyat terkadang membuat seseorang berada pada perasaan "lemah". Ada jarak yang menganga antara cita-cita dan realita.

Kita terkadang mencitakan lunas hutang, tetapi fikiran tidak mampu menjangkaunya, jejaring terbatas, kemampuan tak ada. Akhirnya kita terjebak pada perasaan lemah.

Hebatnya Doa ini, doa ini menggabungkan rasa lemah dan malas, karena itulah algoritma ini terjadi : Setelah seseorang merasa lemah, ia akan merasa malas.

Kita yang merasa lemah akan mudah enggan melaksanakan sesuatu. Inginnya tidur, lari dari kenyataan, menutup diri, dan ini adalah fase berbahaya bagi seseorang yang sedang berjuang. Termasuk dalam bisnis.

Maka doa ini mengajarkan kita agar berlindung dari rasa lemah dan malas. Dan mentransformasikan kedua perasaan itu menjadi perasaan mampu dan giat.

Catatan penting, kita bukan diminta untuk merasa kuat, karena kekuatan hanya milik Allah. La haula wa la quwwata illa billah. Tidak ada kekuatan kecuali kecuali kekuatan dari Allah.

Yang harus kita bangun adalah keyakinan bahwa ad Zat yang dapat memampukan, ada Zat yang dapat menguatkan, ada Zat yang dapat membuat kita bisa melakukan hal yang menurut kita mustahil untuk dilakukan : Allah.

Maka obatilah rasa lemah kita dengan ilmu akan Allah dan keimanan padanya. Sampai saat ini, Saya sulit berfikir, bagaimana seorang atheist dapat menjalankan bisnis dengan tangguh. Saya akui bahwa banyak atheist yang berbisnis, namun Saya tak mampu menyelami betapa berat tekanan hidupnya.

Bagi Theist atau orang yang beriman, kita menyadari diri kita lemah, Namun Allah Maha Kuat. Kita menyadari bahwa jejaring kita terbatas, tetapi kita harus meyakini bahwa Allah mampu mempertemukan kita dengan siapa saja. Kita menyadari bahwa modal kita terbatas, tetapi kita harus menyadari bahwa Allah tak terbatas modalnya. Lahu ma mirotsussamawati wa ma fil ardh, di tanganNyalah segala perbendaharaan kekayaan langit dan bumi. Seisi alam semesta.

Perasaan akan "dimampukan" ini akan membuat kita dapat mengatasi perasaan selanjutnya : "malas".

Jika kita sudah membuka kemungkinan bahwa target kita insyaAllah tercapai, maka fisik akan relatif lebih ringan bergerak.

*****

Sahabat, dari paparan spritual Saya akan turun pada paparan bisnis di lapangan.

Saya banyak menemukan orang-orang yang tidak mau membuka diri. Saya meyakini bahwa mereka sedang terjebak dalam kelemahan dan kemalasan.

Respon-respon jawabannya senada ...

"Kang Rendy enak, pinter ngomong, nah saya?"

"Kang Rendy enak temennya banyak, nah saya?"

"Ya itu kan elu rend, gw mah beda, gak bakalan rend.."

Mulai saat ini, cobalah membangun kesempatan di hati, bahwa segala sesuatu itu mungkin.

Saya memohon kepada Anda yang tertaqdir bertemu tulisan saya, berhentilah mengurung diri, berhentilah mengumpat diri dan berhentilah memaku diri. Bergeraklah seperti air sungai yang mensucikan, jangan diam seperti air peceran. Maaf ya. Nusuk.

Bergerak itu membuka kesempatan demi kesempatan. Mulailah bertemu dengan banyak orang. Jika tidak bisa hadir pada seminar berbayar, datanglah pada temu-temu positif, bergaulah dengan orang-orang positif. InsyaAllah Anda akan sembuh dari rasa lemah dan malas.

Mari, bukalah kesempatan dengan bergerak. Sayangi diri Anda, teman-teman yang menginginkan kebaikan hidup untuk Anda. Orang tua yang menunggu baiknya kehidupan Anda.


Artikel Terkait :

Strategi Bisnis dibalik Doa Bebas Hutang - part 1